এখন থেকে আমরা Elev8

আমরা শুধুমাত্র একটি ব্রোকার নই। আমরা একটি সর্বাত্মক ট্রেডিং ইকোসিস্টেম—বিশ্লেষণ, ট্রেড, এবং প্রবৃদ্ধির জন্য আপনার যা কিছু প্রয়োজন তা এক জায়গায়। আপনার ট্রেডিং উন্নত করতে প্রস্তুত?

Batu Bara ICE Newcastle Sedikit Naik setelah Dibuka di 127,50, HBA Disesuaikan Lebih Tinggi

  • Batu Bara ICE Newcastle mempertahankan penembusan sisi bawah kisaran sideways.
  • Pasar terlihat tenang menyusul kabar potensi perundingan damai baru AS-Iran.
  • HBA baru untuk periode kedua April 2026 lebih tinggi dari sebelumnya.

Harga batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di 127,75 yang lebih rendah 0,39% dibandingkan penutupan hari kemarin. Batu bara ini dibuka dengan gap bawah di 127,50 namun sedikit naik dan mencatatkan tertinggi hari 127,75 pada saat berita ini ditulis. Komoditas ini melanjutkan penurunan dari dekat tertinggi 2026 di tengah optimisnya sentimen pasar pasca munculnya peluang perundingan damai baru antara AS-Iran dalam waktu dekat.

Batu bara ini melanjutkan penembusan sisi bawah kisaran sideways yang terbentuk antara awal Maret hingga Jumat lalu. Indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 39,55 memperkuat penembusan saat mengindikasikan momentumnya bearish karena berada di bawah level netral 50. Namun demikian, tren jangka lebih panjang komoditas ini masih tampak bullish karena berada di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari.

Menyusul potensi perundingan baru antara AS dengan Iran, pasar masih menantikan tanggal pasti perundingan tersebut akan dilakukan. Itu ditambah dengan gencatan senjata yang masih bertahan sejauh ini.

Suhu di area pelabuhan Newcastle Australia 8°C pada saat berita ini ditulis dengan cuara cerah. Peluang hujan terlihat kecil sehingga proses pemuatan batu bara ke dalam kapal di pelabuhan ini diprakirakan tidak mengalami gangguan. Dengan demikian, cuaca bisa disingkirkan dari faktor yang bisa mendorong harga batu bara untuk saat ini.

Kombinasi berita-berita di atas menekan komoditas-komoditas seperti misalnya Minyak West Texas Intermediate (WTI) yang pada satu titik sempat meraih $84,86 sebelumnya hari ini. Namun demikian, baik Batu Bara maupun Minyak berada di atas level-level pra-konflik AS-Israel dengan Iran sehingga masih ada kekhawatiran inflasi global dalam jangka pendek.

Di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode kedua April 2026 dalam Kepmen ESDM No. 145.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;

  • Batubara (6.322 GAR) $103,43 naik dari $99,87
  • Batubara I (5.300 GAR) $77,71 naik dari $72,28
  • Batubara II (4.100 GAR) $52,84 naik dari $49,99
  • Batubara III (3.400 GAR) $38,30 naik dari $35,23

Sebelumnya pekan ini, Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara melakukan sosialisasi Keputusan Menteri ESDM Nomor 144 Tahun 2026 soal Perubahan pada Kepmen ESDM Nomor 268.K/MB.01/MEM.B/2025 mengenai Pedoman Penetapan Harga Patokan untuk Penjualan Komoditas Mineral Logam dan Batu Bara. Regulasi berlaku pada 15 April 2026.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara, Tri Winarno, menyebut dinamika pasar komoditas dan ketidakpastian ekonomi dunia memerlukan regulasi yang bersifat adaptive, adil, dan transparan, seperti diinformasikan dalam situs Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara.

Ada tiga perubahan dengan perincian, yang pertama adalah penyesuaian formula bijih nikel melalui penyesuaian Corrective Factor (CF) serta penambahan mineral ikutan (besi, kobalt, dan krom) dalam perhitungan HMP (harga patokan mineral).

Yang kedua adalah penyesuaian formula bijih bauksit, yaitu terdapat pengurangan faktor reaktif-siklika (R-SiO₂) dalam perhitungan HPM. Perubahan terakhir adalah transisi satuan harga HPM pada bijih dari USD/DMT (Dry Metric Ton) menjadi USD/WMT (Wet Mectric Ton). Perubahan ini berlaku untuk komoditas-komoditas seperti bijih nikel, bauksit, kobalt, timbal, seng, besi, tembaga, mangan, krom, dan pasir besi.

Menteri ESDM RI, Bahlil Lahadalia, dalam pertemuan dengan Menteri Energi Rusia, Sergey Tsivilev, pada hari Selasa kemarin membahas peluang kerja sama terutama kepastian pasokan minyak mentah (crude) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) dalam rangka untuk ketahanan energi Indonesia.

Kerja sama dijajaki melalui skema Government-to-Government (G2G) mapun business-to-business (B2B). Menteri Bahlil menilai ini sinyal positif bagi ketahanan energi nasional, seperti dilansir dari siaran pers Kementerian ESDM, di tengah keriuhan geopolitik yang menyebabkan ketidakpastian dan volatilitas pasar energi.

Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Batu Bara ICE Newcastle
Grafik harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.


USD/CAD memantul dan mendekati 1,3800 di tengah pesan yang beragam tentang Iran

Dolar AS (USD) memangkas sebagian kerugian terhadap Dolar Kanada (CAD) pada hari Rabu. Pasangan mata uang ini diperdagangkan di 1,3775 pada saat berita ini ditulis, setelah memantul dari level terendah Selasa di sekitar 1,3730, meskipun masih lebih dari 1% di bawah tertinggi pekan lalu.
আরও পড়ুন Next