اب سے ہم Elev8 ہیں
ہم صرف ایک بروکر نہیں ہیں۔ ہم ایک جامع ٹریڈنگ ایکوسسٹم ہیں—ہر چیز جو آپ کو تجزیے، ٹریڈ اور ترقی کے لیے درکار ہو، ایک ہی جگہ پر ہے۔ کیا آپ اپنی ٹریڈنگ کو بلند کرنے کے لیے تیار ہیں؟
ہم صرف ایک بروکر نہیں ہیں۔ ہم ایک جامع ٹریڈنگ ایکوسسٹم ہیں—ہر چیز جو آپ کو تجزیے، ٹریڈ اور ترقی کے لیے درکار ہو، ایک ہی جگہ پر ہے۔ کیا آپ اپنی ٹریڈنگ کو بلند کرنے کے لیے تیار ہیں؟
Harga batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di 132,10 yang tidak berubah dari penutupan Jumat lalu. Batu bara ini dibuka di 132,10 dan belum menunjukkan pergerakan sejak saat itu. Ini menyusul tidak ada pergerakan sama sekali pada Jumat lalu. Dengan demikian, komoditas ini belum merespon peristiwa yang terjadi selama akhir pekan di seputar Timur Tengah. Dalam jangka menengah, batu bara tetap lebih tinggi dari level-level pra-konflik AS-Israel dengan Iran.
Rebound batu bara ini dari 117,50 membuat indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari berubah netral di 50,89 setelah sebelumnya mengindikasikan momentum bearish. Simple Moving Average (SMA) 200-hari yang berada di bawah harga juga mengindikasikan trennya secara teknis tetap bullish.
Suhu di pelabuhan Newcastle Australia berada dalam kisaran 21°C– 24°C pada saat berita ini ditulis dengan cuaca cerah berawan. Kondisi cuaca ini akan memungkinkan pemindahan batu bara dari pelabuhan ke kapal-kapal berjalan lancar sehingga cuaca akan dieliminasi dari faktor yang dapat memengaruhi harga batu bara dalam jangka pendek.
Presiden AS, Donald Trump, memerintahkan delegasi dari AS untuk tidak pergi ke Pakistan untuk mengadakan perundingan damai dengan Iran pada akhir pekan. Presiden Trump menyebut Iran menawarkan banyak hal tetapi itu belum cukup. Sebelumnya hari ini, Bloomberg melaporkan bahwa Iran memberikan proposal baru kepada AS untuk membuka Selat Hormuz sekaligus mengakhiri perang. Namun, belum ada laporan lebih lanjut apakah Amerika ingin menindaklanjuti proposal.
Laporan-laporan di atas mengindikasikan ketidakpastian atas Selat Hormuz masih belum terselesaikan dalam jangka pendek, memperpanjang gangguan distribusi minyak dan gas. Hal tersebut berpotensi menjaga permintaan serta harga batu bara sebagai alternatif gas untuk pembangkit listrik.
Di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode kedua April 2026 dalam Kepmen ESDM No. 145.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;
Di tengah gangguan distribusi minyak dunia, Direktorat Jendral Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia kembali memanggil PT Inti Sinergi Formula (Boibos) untuk mematangkan rencana pengujian laboratorium serta menegaskan standarisasi dan klasifikasi bahan bakar yang diproduksi perusahaan tersebut, seperti diinformasikan dalam situs Kementerian ESDM akhir pekan lalu.
Pengujian dilakukan untuk menentukan apakah produknya berada dalam kategosi BBN (Bahan Bakar Nabati) atau BBM (Bahan Bakar Minyak) serta memberikan jaminan rasa aman bagi konsumen dari risiko kerusakan mesin. Jika program ini berhasil, maka akan semakin mengurangi ketergantungan negara pada energi impor serta memperkuat proses menuju kemandirian energi.

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.